SANDAL KARAKTER SANKAR

Dicari..... distributor,agen dan reseler sandal karakter lucu ,unik dan menarik....
segera daftarkan diri anda nengan meng klik link disini



Produk <<>> Harga <<>> Cara pemesanan <<>> profil

Info hub kami di 083807634414 atau email kami (

ca_lancar.palmerah@yahoo.com

)

Gerakan Koin SBY Rendahkan Martabat DPR


Insaf Albert Tarigan - Okezone
JAKARTA - Gerakan pengumpulan koin untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni yang dilakukan sejumlah orang di sebelah ruang rapat Komisi III Gedung DPR dinilai berlebihan dan merendahkan martabat anggota DPR.

Anggota Komisi III Ahmad Yani (Fraksi PPP) mengatakan, gerakan koin untuk presiden tersebut sah-sah saja dilakukan masyarakat di luar gedung DPR atau di dunia maya sebagai bentuk sindiran. Namun anggota DPR tidak perlu ikut-ikutan karena bisa menggunakan hak konstitusionalnya untuk merespons hal tersebut.

"DPR ini punya hak budgeting, hak legislasi dan hak pengawasan.  Janganlah DPR digunakan untuk hal-hal seperti itu, itu merendahkan martabat DPR. Gunakan saja hak-hak konstitusionalnya," katanya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Meski demikian, Yani mengakui sempat juga menyumbang koin ke dalam kotak kaca transparan yang diletakkan di koridor pintu masuk ruang rapat kerja Komisi III semalam. Hal itu dilakukannya karena tidak mengetahui maksud penggalangan koin tersebut.


"Saya tak tahu itu untuk presiden, kalau saya tahu saya enggak mau karena itu merendahkan hak saya," ujarnya.(crl)

sumber : http://news.okezone.com/read/2011/01/25/337/417605/gerakan-koin-sby-rendahkan-martabat-dpr

AKARTA, KOMPAS.com Sekelompok politikus DPR turut menggalang aksi pengumpulan uang receh untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah menyatakan bahwa gajinya tak pernah naik selama tujuh tahun memimpin bangsa. Kotak bening yang diletakkan di dekat Komisi III DPR, Selasa (25/1/2011), itu pun langsung ramai dikerubungi politikus parlemen.
Politikus Golkar pun termasuk yang antusias mencemplungkan uang recehnya ke kotak tersebut. Sayang, sehari setelahnya, kotak tersebut raib. Beredar kabar, seorang pimpinan Komisi III meminta kotak tersebut disingkirkan.
Ketua Komisi III Benny K Harman dari Fraksi Partai Demokrat mengaku tak setuju dengan kotak tersebut. Benny mengatakan, uang receh tersebut sebaiknya untuk korban lumpur Lapindo saja.
"Mereka kan jadi victim, korban. Mereka inilah yang membutuhkan, kan begitu. Kalau mau bikin seperti itu, ya, kalau mau. Saya tidak mengusulkan," kata Benny kepada wartawan, Rabu.
Politikus Fraksi Golkar, Priyo Budi Santoso, yang juga Wakil Ketua DPR, ketika dimintai konfirmasi, mengaku bingung dengan pernyataan Benny soal koin untuk korban lumpur Lapindo.
"Tidak perlu kalang kabut mengalihkan isu ini-itu. Saya malah balik bertanya, ada apa ini, kok, sepertinya kelabakan," katanya.
"Di sana ada banyak anggota DPR, Golkar cuma dua orang, kok. Kenapa kemudian gemetar karena ada (anggota) Golkar-nya," kata Priyo.
Bagi Priyo, uang receh untuk Presiden hanya kreativitas para politikus DPR.
"Ini menunjukkan satire karena mereka merasa gusar, getir, termasuk dengan pernyataan Presiden. Jangan dipermasalahkan. Ini peristiwa yang harus dihormati dan merupakan pernak-pernik demokrasi. Tidak perlu kemudian teman-teman Demokrat seperti terpancing untuk menghantam teman-teman," katanya.
Golkar, kata Priyo, adalah kawan baik Demokrat.
"Tidak harus gemetaran begitu. Biasa-biasa," ia menegaskan.
"Lantas, bagaimana tanggapan Anda soal koin untuk korban lumpur Lapindo?" tanya wartawan.
"Silakan saja. Itu kan menunjukkan ekspresi gemetaran," kata Priyo tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar